“Di Bawah Terik, Rakyat Menunggu: Suara Hati Seorang Anggota DPRD Menggugah Nurani Pejabat”

oleh -850 Dilihat
oleh
banner 468x60

Sambas–CektaIndonesia.com

Seorang anggota DPRD menyampaikan suara hatinya terkait antrean panjang kendaraan di SPBU yang terjadi belakangan ini. Namun, yang bersangkutan memilih untuk tidak disebutkan namanya dan identitasnya tidak dibuka ke publik. Ia menegaskan, biarlah apa yang disampaikannya menjadi bagian dari pengingat, dan biarlah Allah yang menilai niat tersebut.

banner 336x280

“Saya tidak sedang berbicara sebagai pejabat… saya berbicara sebagai manusia yang hatinya terusik,” ujarnya dengan nada lirih saat ditemui awak media,  (24/3/2026).

Ia mengaku menyaksikan langsung bagaimana masyarakat harus berdiri berjam-jam di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM. Pemandangan itu, menurutnya, bukan sekadar antrean biasa, melainkan gambaran nyata perjuangan rakyat kecil.

“Saya melihat seorang ibu… wajahnya nampak pasrah dengan keadaan. Tidak ada keluhan, tidak ada protes. Hanya diam, menunggu giliran di tengah panas yang menyengat. Saya juga melihat seorang bapak tua yang berharap bisa mendapatkan BBM hari itu, agar besok masih bisa bekerja. Di situ saya bertanya dalam hati… di mana kita saat mereka membutuhkan?” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini banyak pihak yang hanya melihat persoalan dari balik meja, tanpa benar-benar memahami kondisi yang terjadi di lapangan.

“Kita sering bicara soal kebijakan, sistem, dan distribusi. Tapi pernahkah kita berdiri di sana? Merasakan panas yang sama? Menunggu tanpa kepastian seperti mereka?” katanya.

Ia menilai, kondisi ini menjadi refleksi bahwa ada jarak yang mulai terbentuk antara pemangku kebijakan dengan masyarakat.

“Saya khawatir, kita sudah terlalu jauh dari rakyat. Kita sibuk dengan rapat dan laporan, tapi lupa bahwa di luar sana ada masyarakat yang hanya ingin bisa menjalani hidupnya dengan layak,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal BBM, tetapi menyangkut rasa keadilan dan kehadiran negara di tengah masyarakat.

“Rakyat kita tidak banyak menuntut. Mereka sabar, mereka diam, mereka hanya menunggu. Tapi justru diamnya mereka itu yang seharusnya mengetuk hati kita,” tegasnya.

Ia pun mengajak para pejabat yang memiliki kewenangan untuk turun langsung ke lapangan, melihat dan merasakan kondisi yang dialami masyarakat.

“Kalau kita masih punya hati nurani, mari turun. Berdirilah di antrean itu walau hanya sebentar. Rasakan sendiri. Karena dari situ kita akan paham, ini bukan sekadar persoalan teknis, ini soal keadilan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan harapan agar suara yang disampaikannya dapat menjadi bahan renungan bersama.

“Mudah-mudahan dengan adanya berita ini, para pejabat bisa membuka hati nuraninya, lebih peka terhadap kondisi masyarakat, dan segera mengambil langkah nyata. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa jabatan ini adalah amanah. Biarlah Allah yang menilai,” tutupnya.

Red.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.