Kalbar— CektaIndonesia.com
Video viral yang memperlihatkan potongan buah menyerupai melon dalam kondisi berulat terus menuai perhatian publik. Sejumlah indikasi kuat mengarah bahwa peristiwa tersebut diduga kuat terjadi di wilayah Kota Singkawang, meskipun lokasi sekolahnya belum diungkap secara terbuka,Rabu (11/02/2026)
Video itu diunggah oleh akun Facebook Rina Lelong dengan keterangan: “Dpt kiriman dr ank, asli nyate sebab tekanak makanan ank, cerita MBG.” Narasi tersebut secara langsung mengaitkan temuan buah berulat dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa di sekolah.
Upaya konfirmasi awak media kepada pemilik akun Facebook tersebut dilakukan melalui pesan inbox. Saat ditanya di sekolah mana kejadian itu berlangsung, yang bersangkutan hanya menjawab singkat, “skwg.” Jawaban ini dinilai memperkuat dugaan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan Singkawang, meski tanpa menyebutkan sekolah maupun waktu kejadian secara rinci.
Petunjuk lain tampak dalam isi video. Latar suara anak-anak yang terdengar menggunakan dialek Melayu Sambas, dialek yang lazim digunakan di Singkawang dan sekitarnya. Selain itu situasi dalam video menunjukkan aktivitas yang menyerupai pembagian makanan kepada siswa.
Saat dikonfirmasi terpisah, Koordinator Wilayah SPPG BGN Singkawang, Devi Rizkia, SP, menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui keberadaan video tersebut setelah dikonfirmasi oleh awak media. Hingga saat ini, ia mengaku belum menerima laporan resmi terkait adanya temuan makanan tidak layak konsumsi dalam pelaksanaan program MBG di Singkawang.
“Kami baru mengetahui video ini dari rekan media. Selanjutnya tentu akan kami telusuri untuk memastikan apakah benar berasal dari distribusi MBG dan di sekolah mana kejadian tersebut berlangsung,” ujar Devi Rizkia, SP.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah, Dinas Pendidikan, maupun instansi pengawas keamanan pangan di Kota Singkawang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait standar pengawasan mutu makanan, khususnya bahan pangan segar seperti buah yang rentan mengalami pembusukan apabila tidak ditangani sesuai prosedur.
Meski indikasi lokasi semakin mengerucut ke Singkawang, redaksi menegaskan bahwa kesimpulan akhir tetap menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang. Namun demikian, kasus ini semestinya menjadi peringatan dini agar pengawasan program MBG dilakukan secara ketat, transparan, dan bertanggung jawab.
Keamanan pangan bagi anak sekolah tidak boleh dianggap sepele. Setiap kelalaian berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap program yang sejatinya dirancang untuk menjamin tumbuh kembang dan kesehatan generasi masa depan.
Reporter Rizalfarizal







