Sambas-CektaIndonesia.com
Sebuah unggahan di media sosial yang menampilkan pisang berwarna kehitaman sebagai bagian dari menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet.
Unggahan tersebut dibagikan oleh akun Facebook Irwandi Baxia. Dalam postingannya, ia mempertanyakan kelayakan buah yang disajikan kepada peserta program MBG. Foto yang diunggah memperlihatkan sejumlah pisang dengan kulit yang telah menghitam, serta satu buah pisang yang ditempatkan dalam nampan makanan siswa.
“Dapat gizi dari mana kalau buah yang sudah hitam seperti ini diberikan kepada anak-anak?” tulisnya dalam unggahan yang kemudian mendapat ratusan reaksi, puluhan kali dibagikan, dan memicu banyak komentar dari netizen.
Beragam tanggapan muncul di kolom komentar. Sebagian warganet menilai kondisi pisang tersebut tidak pantas disajikan dalam program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak. Mereka meminta pengelola lebih selektif dalam memilih bahan pangan yang akan diberikan kepada siswa.
Namun, tidak sedikit pula yang memberikan pandangan berbeda. Beberapa netizen menilai pisang dengan kulit menghitam belum tentu busuk dan masih aman dikonsumsi apabila bagian dalam buah masih dalam kondisi baik. Mereka mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan hanya dari tampilan luar buah.
Perdebatan juga melebar pada pelaksanaan Program MBG. Sejumlah pengguna media sosial meminta agar kritik tidak langsung diarahkan kepada program secara keseluruhan, melainkan kepada pihak pengelola atau penyedia makanan jika memang ditemukan adanya kekurangan dalam penyajian menu.
Dalam salah satu komentar, seorang netizen menanyakan lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menangani penyediaan makanan untuk wilayah Pondok Pesantren Nilam. Menanggapi pertanyaan tersebut, pemilik unggahan menyebut lokasi pengelola berada di kawasan Sandau Kolam.
Sementara itu, beberapa netizen menyarankan agar pihak sekolah maupun wali murid menyampaikan keberatan secara resmi apabila menemukan menu yang dianggap tidak memenuhi standar kualitas pangan yang layak dikonsumsi peserta didik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPPG yang disebut dalam diskusi tersebut terkait kondisi buah yang menjadi sorotan publik.
Media ini tetap berpegang pada prinsip keberimbangan dan profesionalisme jurnalistik. Oleh karena itu, kami membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada pihak pengelola SPPG maupun pihak terkait lainnya guna memberikan penjelasan atas informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Red








