Pontianak–CektaIndonesia.com
Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkap potensi kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp1,75 triliun per pekan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Temuan tersebut memicu perdebatan publik terkait efektivitas, pengawasan, dan tata kelola program yang menyedot anggaran besar tersebut.(04/03/2026)
Dalam kajian yang dipaparkan, Celios menilai besarnya anggaran yang digelontorkan setiap minggu perlu diimbangi dengan sistem distribusi, pengawasan kualitas, serta mekanisme evaluasi yang transparan.
Tanpa kontrol yang ketat, potensi pemborosan dinilai sangat tinggi, terutama jika terjadi ketidaktepatan sasaran maupun makanan yang tidak termanfaatkan.
Di sejumlah daerah, beredar pula dokumentasi yang menunjukkan sisa-sisa makanan program MBG yang tidak habis dikonsumsi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai perencanaan porsi, kualitas menu, hingga pola distribusi di lapangan.
Program MBG sendiri digadang-gadang sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan asupan gizi anak sekolah serta mendukung pertumbuhan generasi muda.
Namun, para pengamat menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar program strategis ini tidak justru menimbulkan pemborosan anggaran negara.
Celios mendorong pemerintah untuk membuka data secara rinci terkait realisasi anggaran, jumlah penerima manfaat, serta mekanisme pengawasan yang diterapkan.
Transparansi dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan program berjalan tepat sasaran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara program terkait angka potensi kerugian yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Red







