Pencitraan Pejabat: Panggung Kepalsuan dan Sarang Dosa Kekuasaan

oleh -5520 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

CektaIndonesia.com                                           

banner 336x280

Di balik senyum manis pejabat di baliho dan media sosial, tersimpan bau busuk kekuasaan yang sengaja ditutup rapat. Pencitraan hari ini bukan lagi soal komunikasi publik, melainkan telah menjelma menjadi panggung kepalsuan—tempat dosa-dosa kekuasaan disamarkan demi kepentingan pribadi dan politik.

Seremoni demi seremoni digelar. Kamera disiapkan, naskah disusun, dan senyum dipaksakan. Pejabat tampil seolah paling peduli pada rakyat, padahal di saat bersamaan, pelayanan publik amburadul, proyek infrastruktur dikerjakan asal jadi, dan laporan masyarakat tak pernah ditindaklanjuti secara serius.

Pencitraan telah menjadi alat paling murah untuk menipu publik. Dengan satu unggahan foto dan caption kepedulian, kegagalan kinerja seolah terhapus. Padahal, di balik layar, praktik penyalahgunaan wewenang, pemborosan anggaran, hingga dugaan permainan proyek justru dibiarkan tumbuh subur.

Lebih ironis, kritik yang disampaikan warga kerap dianggap sebagai gangguan stabilitas. Mereka yang bersuara dilabeli provokator, sementara pejabat berlindung di balik jargon “demi kepentingan rakyat”. Narasi keberhasilan diproduksi massal, meski fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

“Yang kami butuhkan bukan pejabat yang pandai berpose, tapi pemimpin yang berani bertanggung jawab,” tegas seorang tokoh masyarakat. Namun suara semacam ini sering tenggelam oleh riuhnya mesin pencitraan yang dibiayai uang publik.

Dalam iklim seperti ini, pencitraan berubah menjadi sarang dosa kekuasaan. Ia menutupi kebusukan sistemik: pengawasan lemah, transparansi palsu, dan keberanian hukum yang tumpul ke atas. Selama citra lebih dipentingkan daripada integritas, maka kebohongan akan terus diwariskan sebagai prestasi.

Rakyat tidak lagi bodoh. Senyum palsu dan panggung seremonial tak akan mampu menutup fakta selamanya. Pejabat yang sibuk membangun citra, tetapi abai terhadap amanah, sejatinya sedang menggali lubang kehancuran kepercayaan publik. Dan saat kepercayaan runtuh, tidak ada pencitraan yang mampu menyelamatkan mereka.

Redaksi CektaIndonesia.com

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.