Ketapang —CektaIndonesia.com
Delapan dekade Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, namun semboyan “merdeka belajar” terasa menyakitkan bagi warga Desa Kenyauk, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. Di SD Negeri 21 Hulu Sungai, realitas pendidikan di pedalaman tampil dalam wujud yang paling menyedihkan dan mengkhawatirkan.
Bukan sekadar kurangnya fasilitas, namun kondisi bangunan sekolah saat ini telah mengancam keselamatan jiwa para siswa dan tenaga pendidik setiap harinya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dan diperkuat oleh bukti visual, kerusakan parah terjadi hampir di seluruh ruang kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas enam.
Potret Suram Ruang Kelas
Fani Frasuda, salah satu guru yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, mengungkapkan keluh kesah mendalam yang juga menjadi sorotan tajam tim media. Ia menyebut bahwa kondisi sarana dasar seperti meja dan kursi belajar sudah rusak parah, membuat proses belajar-mengajar menjadi sangat tidak nyaman.
Namun, ketakutan terbesar yang menghantui adalah kondisi langit-langit sekolah.
Plafon ruang kelas terlihat sudah hancur, terkoyak-koyak, dan lapuk, menyisakan kerangka kayu yang terekspos jelas. Bagian yang tersisa seolah hanya menunggu waktu untuk runtuh.
Jeritan Hati Guru: Ketakutan Menimpa Siswa, Kondisi ini menciptakan suasana belajar yang penuh kecemasan. Fani Frasuda menegaskan bahwa pengabdian mereka di daerah terpencil ini bukan main-main, namun apa yang mereka dapatkan sungguh jauh dari harapan.
Ia mengkhawatirkan keselamatan anak didiknya jika pemerintah terus membiarkan kondisi ini.
“Kami mengabdi bukan untuk main-main, tapi inilah kenyataan dan fakta lapangan yang kami hadapi di pedalaman. Yang kami keluhkan bukan hanya meja dan kursi, tapi plafon yang sudah terkoyak-koyak seperti kain usang,” ungkap Fani dengan nada getir.
Ketakutan terbesar para guru adalah jika tragedi terjadi.
“Apabila sedang proses mengajar dan belajar, tiba-tiba plafon jatuh menimpa anak-anak, pasti yang disalahkan adalah guru. Padahal kondisinya sudah tidak layak lagi untuk disebut sekolah,” lanjutnya, memohon perhatian.
Dinas Pendidikan Ketapang Didesak Bertindak, kondisi di SDN 21 Hulu Sungai ini menjadi pertanyaan besar mengenai kinerja dan pengawasan pelaksana lapangan yang diberi amanat oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang.
Masyarakat mempertanyakan mengapa anggaran pendidikan seolah luput menyentuh sekolah-sekolah di pelosok yang kondisinya sudah darurat.
Maka dari itu, harapan besar ditujukan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Ketapang, khususnya Dinas Pendidikan, untuk segera turun tangan. Kehadiran negara sangat dibutuhkan bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk bertindak nyata demi keselamatan generasi penerus bangsa di Hulu Sungai.
Jika pembiaran ini terus berlanjut, dampaknya bukan hanya pada fisik bangunan, melainkan pada mentalitas anak-anak didik yang merasa dianaktirikan. Jangan sampai Pemda Ketapang baru bereaksi setelah ada jatuh korban jiwa dari murid-murid yang tidak berdosa.
REPORTED BY: EGA SAFITRI






