Tingkatkan Kapasitas Perwira TNI AU di Mabesau, Ketua Umum DePA-RI Diundang Sebagai Pembicara

oleh -124 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta-CektaIndonesia.com

Ketua Umum DePA-RI (Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia), Dr. Tahir Musa Luthfi Yazid, S.H., LL.M. memenuhi undangan Markas Besar TNI AU sebagai pembicara dalam rangka meningkatkan kapasitas para perwira, pada Kamis (23-04-2026)

banner 336x280

Dalam acara itu, Luthfi memberikan kiat-kiat teknik negosiasi, komunikasi, dan mediasi yang disambut dengan antusiasme para perwira. Adapun, kegiatan tersebut dilakukan secara hybrid (daring dan luring), yang diikuti oleh ratusan peserta perwira TNI AU dari Sabang sampai dengan Merauke.

Melalui kolaborasi ini, Luthfi berharap para perwira dapat mengemban tugasnya secara profesional, berpijak pada pesan konstitusi, dan berkembang sebagai individu yang mampu memahami akar-akar konflik, terampil berkomunikasi yang baik, serta berkompetensi dalam melakukan negosiasi dan strategi perundingan yang efektif.

Ia menekankan, perbaikan komunikasi yang kian utuh mengarahkan seseorang pada kesempatan menjadi pemengaruh teladan atau the better communication, the better your chance to influence.

Ketepatan dan kecermatan dalam pengambilan keputusan juga merupakan sesuatu yang fundamental menurut Luthfi, mengingat para perwira merupakan “the man behind the gun”. Karenanya, Luthfi berharap mereka tidak hanya mengandal kesuksesan militer pada alutista dan teknologi semata, namun juga kebijaksanaan.

Selain itu, Luthfi menegaskan bahwa penting bagi para perwira untuk dapat mengendalikan diri dari segala bentuk konflik kepentingan, struktural, bahkan konflik nilai, mengutip tulisan sahabatnya, Christopher W. Moore, saat Luthfi mengikuti pendidikan di Centre for Dispute Resolution di Bolder, Colorado, Amerika Serikat, 1995.

“Yang paling berat adalah konflik nilai karena terkait dengan beliefs, adat istiadat, ideologi, atau agama. Bedakan juga konflik-konflik dengan jeli melihat dan mempersepsikan data yang acapkali timbul akibat ketidakakuratan informasi,” pungkasnya.

Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut baginya dapat dilakukan dengan mengikuti jejak para tokoh tentara intelektual idealis, seperti Jenderal Soedirman, Jenderal A.H. Nasution, Jenderal T.B. Simatupang, Jenderal Soemitro, Jenderal Saidiman Suryohadiprojo, Jendral Try Sutrisno, dan sebagainya sebagai sosok panutan.

“Melihat disrupsi hukum yang semakin cepat, para perwira jangan sampai tertinggal atau stagnan di era The Rule of Algorithm dan senantiasalah turut serta mewujudkan keadilan sosial,” tambahnya lagi.

Diketahui, Dr. Tahir Musa Luthfi Yazid, S.H., LL.M. pernah berkolaborasi dengan Alisa J. Steren dari National Institute for Dispute Resolution (NIDR) di Washington DC, Amerika Serikat. Selain itu, Luthfi juga pernah menjadi dosen di University of Gakushuin, Tokyo untuk mata kuliah Comparative Dispute Resolution dan Wakai sekaligus sebagai asisten Prof. Yoshiro Kusano, Mantan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Hiroshima. (Megy)

Red

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.