CektaIndonesia.com-
Program krusial Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi pilar perbaikan gizi nasional justru menjadi ladang korupsi baru. Pengakuan terbaru dari salah satu tersangka utama membuka kotak pandora mengenai betapa masifnya manipulasi infrastruktur dalam proyek ini.
Berdasarkan laporan Tribun-Medan.com, Irjen (Purn) Sony Sonjaya, mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), mulai “bernyanyi” di hadapan penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) pada pemeriksaan Kamis (18/6/2026). Sony membeberkan bahwa penyimpangan tidak hanya terjadi pada distribusi logistik makanan, melainkan pada pengadaan teknologi pengawasan fiktif di dapur-dapur MBG.
Fakta Temuan: Modus Infrastruktur Pengawasan “Hantu”
Tim penegak hukum menemukan bahwa transparansi yang dijanjikan dalam program ini sengaja dilumpuhkan sejak awal melalui manipulasi pengadaan barang. Berikut adalah poin-poin krusial yang berhasil dihimpun:
5.000 CCTV Fiktif: Anggaran dikucurkan untuk pengadaan lima ribu unit kamera pengawas guna memonitor higienitas dan aktivitas dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), namun fisiknya tidak pernah ada.
Alat Sidik Jari Alat Absensi Palsu: Pengadaan mesin pemindai sidik jari (finger print) yang berfungsi mengontrol kehadiran staf dapur juga ditemukan fiktif.
Klaster Korporasi/Individu: Sony Sonjaya menyerahkan 41 nama aktor yang mengajukan izin pembuatan titik-titik dapur MBG fiktif tersebut kepada penyidik Kejagung.
Catatan Redaksi CektaIndonesia.com: Pengadaan sistem digital fiktif (CCTV & Finger Print) merupakan modus klasik untuk menciptakan kesan bahwa proyek berjalan modern dan transparan, sementara anggarannya habis mengalir ke kantong para makelar proyek.
Konstruksi Kasus dan Tersangka
Hingga pertengahan Juni 2026, Kejaksaan Agung bergerak cepat dengan menetapkan 6 orang tersangka. Tiga di antaranya merupakan pucuk pimpinan yang seharusnya menjaga integritas lembaga, yaitu:
Dadan Hindayana (Eks Kepala Badan Gizi Nasional)
Lodewyk Pusung (Eks Wakil Kepala BGN)
Sony Sonjaya (Eks Wakil Kepala BGN)
Kesimpulan CektaIndonesia.com
SANGAT BERPOTENSI MERUGIKAN NEGARA
Modus korupsi MBG ini menunjukkan adanya kegagalan sistem pengawasan internal sejak fase perencanaan. Klaim bahwa program ini berjalan dengan pengawasan digital yang ketat terbukti salah/fiktif.
CektaIndonesia.com akan terus mengawal perkembangan 41 nama baru yang disetorkan ke Kejagung untuk melihat sejauh mana gurita skandal ini menjalar ke sektor swasta atau pejabat publik lainnya.
Diproduksi oleh Tim Komparasi dan Fakta CektaIndonesia.com (Dikutip dari laporan Tribun-Medan.com).









