MABM Pontianak Bidik Juara Umum Festival Budaya Melayu XIV Kalbar 2026 PONTIANAK – CektaIndonesia.com

oleh -20 Dilihat
banner 468x60

Pontianak-CektaIndonesia.com

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak menargetkan gelar juara umum pada Festival Budaya Melayu (FBM) XIV Kalimantan Barat Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20–27 November 2026 di Rumah Adat Melayu, Jalan Sutan Syahrir, Kota Pontianak.

banner 336x280

Target tersebut disampaikan Ketua MABM Kota Pontianak, Satarudin, SH, MH, dalam kegiatan seleksi kontingen MABM Kota Pontianak yang dirangkaikan dengan peluncuran lagu Festival Budaya Melayu XIV Tahun 2026, Kamis (22/10/2026).

Satarudin mengatakan, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk menyeleksi peserta untuk sejumlah cabang perlombaan yang akan dipertandingkan. Sebagai tuan rumah, MABM Kota Pontianak optimistis mampu memberikan penampilan terbaik dengan dukungan seluruh pihak terkait.

“Pontianak siap mengikuti Festival Budaya Melayu. Saya berharap Kota Pontianak menjadi juara umum, apalagi kita sudah menyeleksi peserta untuk beberapa perlombaan yang akan dipertandingkan,” kata Satarudin.

Ia mengungkapkan, respons MABM dari kabupaten dan kota lain di Kalimantan Barat cukup positif. Sebanyak 14 kabupaten/kota diharapkan dapat mengirimkan kontingen untuk memeriahkan agenda budaya tahunan tersebut.

Menurutnya, penetapan jadwal pelaksanaan pada 20–27 November 2026 memberikan waktu bagi setiap daerah untuk mematangkan persiapan, baik dari segi peserta maupun materi budaya yang akan ditampilkan.

Jaga Budaya Melayu agar Tetap Lestari

Festival Budaya Melayu XIV Kalimantan Barat 2026 mengusung tema “Jaga Budaya Lestari Budayaku”. Tema tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi, bahasa, dan kuliner Melayu agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi muda.

Satarudin menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui festival atau kegiatan seremonial. Menurutnya, upaya menjaga warisan leluhur harus dimulai dari lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah membiasakan penggunaan kosakata Melayu di rumah agar anak-anak dan generasi muda tetap mengenal bahasa daerahnya.

Ia mencontohkan sejumlah kosakata Melayu, seperti “temponek” dan “ceper”, yang menurutnya mulai kurang dikenal oleh sebagian generasi muda.

“Kita sebagai orang tua harus membiasakan ucapan-ucapan seperti ini di rumah supaya anak cucu kita memahami bahasa Melayu dan tidak melupakan budaya sendiri,” ujarnya.

Satarudin menilai, bahasa merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Melayu. Karena itu, keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat diperlukan agar bahasa serta tradisi lokal tidak semakin ditinggalkan seiring perkembangan zaman.

Kuliner Tradisional Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata

Selain bahasa dan tradisi, Satarudin juga menyoroti potensi kuliner khas Melayu yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata Kota Pontianak.

Sejumlah kuliner tradisional, seperti tercalok, budu, pettes, sampot-petes, dan serai rasi, dinilai memiliki nilai budaya yang patut diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat, termasuk wisatawan dari luar daerah.

Menurutnya, kuliner tradisional bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari kekayaan budaya yang mencerminkan kebiasaan dan identitas masyarakat Melayu.

Pengembangan kuliner khas daerah diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian budaya. Selain menjaga warisan leluhur, langkah tersebut juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat serta memperkuat sektor pariwisata daerah.

Pemkot Pontianak Dukung Penyelenggaraan Festival

Satarudin menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Pontianak memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Budaya Melayu XIV Kalimantan Barat 2026.

Sebagai Ketua DPRD Kota Pontianak sekaligus Ketua MABM Kota Pontianak, ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan sukses, aman, dan damai.

Festival Budaya Melayu Kalimantan Barat merupakan agenda tahunan yang lokasi penyelenggaraannya bergantian di kabupaten dan kota. Pelaksanaan di Kota Pontianak pada 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Melayu sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya daerah.

Satarudin mengajak seluruh elemen masyarakat, organisasi kebudayaan, dan pihak terkait untuk berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.

“Mari bersama kita sukseskan Festival Budaya Melayu Kalimantan Barat pada 20–27 November 2026 di Kota Pontianak,” tutupnya.

Red

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.