Translokasi Orangutan di Kayong Utara Sebagai Langkah Mitigasi Konflik dan Penyelamatan Satwa

oleh -28 Dilihat
oleh
banner 468x60

Ketapang — CektaIndonesia.com

banner 336x280

Upaya kolaboratif antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), unsur TNI-Polri, dan masyarakat telah berhasil melakukan translokasi satu individu orangutan dari dari Dusun Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Kegiatan ini berawal dari laporan masyarakat terkait kemunculan orangutan di area perkebunan. Sejak akhir tahun lalu, orangutan tersebut diketahui melintasi kebun kelapa dan karet milik warga. Namun sejak sepekan terakhir, individu ini mulai menetap di kebun kelapa, sehingga menimbulkan kerugian serta kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena ukuran tubuhnya yang relatif besar.

Muhadi, Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, menegaskan bahwa translokasi merupakan langkah terakhir yang ditempuh setelah berbagai opsi penanganan lain dipertimbangkan secara matang. la menjelaskan bahwa translokasi bukan sekadar memindahkan orangutan, melainkan memulangkan mereka ke habitat alaminya yang lebih aman dan sesuai. “Langkah ini dilakukan untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Berdasarkan hasil asesmen serta melihat kondisi lanskap yang ada, keberadaan orangutan ini berisiko menimbulkan kerugian ekonomi serta rasa takut, yang dapat berujung pada tindakan yang membahayakan baik bagi satwa maupun manusia,” jelasnya.

Tim gabunqan bergerak ke lokasi sejak pagi hari dan tiba sekitar pukul 07.00 WIB untuk melakukan evakuasi.

Proses penanganan dilakukan menggunakan senapan bius oleh tim YIARI guna meminimalkan risiko. Dosis anestesi dihitung secara cermat oleh dokter hewan berdasarkan estimasi berat badan satwa, dan prosedur ini hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi.

 

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka alami pada bagian wajah dan lengan kiri, serta fraktur pada gigi. “Luka tersebut kemungkinan disebabkan oleh lingkungan sekitar, seperti semak bambu, mengingat orangutan ini banyak beraktivitas di kebun dan hutan bambu,” ujar drh. Rachel, dokter hewan YIARI. “Luka ini sudah sembuh dan secara umum, kondisi satwa dinyatakan sehat dan layak untuk ditranslokasikan.”

Setelah menjalani pemeriksaan, orangutan tersebut segera ditranslokasikan ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan habitat asalnya. Kawasan ini dinilai memiliki status perlindungan yang kuat serta ketersediaan pakan yang memadai untuk mendukung kesejahteraan dan kelangsungan hidupnya di alam liar.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air. Setibanya di dalam kawasan, proses pelepasliaran dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat yang turut membantu membawa orangutan lebih jauh ke dalam hutan.

Saat dilepaskan, orangutan menunjukkan respons yang baik dengan segera bergerak menjauh dan memperlihatkan perilaku liar, yang menjadi indikator kesiapan untuk kembali hidup secara mandiri di habitat alaminya.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menjelaskan upaya translokasi ini sekaligus mengapresiasi peran semua pihak yang terlibat. Dia mengatakan, “Translokasi ini merupakan salah satu langkah dalam upaya penyelamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dengan manusia. Kami mengapresiasi peran serta masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung proses ini sehingga dapat berjalan dengan baik. Ke depan, sinergi dan kesadaran bersama sangat penting agar upaya pelestarian orangutan dapat berjalan seiring dengan aktivitas masyarakat secara berkelanjutan.”

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, S.P., M.Si., menegaskan tugasnya untuk menjada kawasan TaNaGuPa. Dia mengatakan “Tugas kami selalu menjaga Taman Nasional Gunung Palung agar tetap menjadi rumah yang nyaman dan aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Bersama jaga alam, jaga TaNaGuPa untuk kehidupan yang berkelanjutan.”

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa dinamika perubahan tata guna lahan menjadi tantangan utama dalam mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar. “Perubahan yang berlangsung cepat dan tidak terencana menyulitkan orangutan untuk beradaptasi, sekaligus menghambat penyusunan strategi mitigasi yang efektif. Kami berharap para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan sektor swasta, dapat mendorong perencanaan tata guna lahan yang lebih pasti dan terintegrasi. Hal ini sangat krusial, mengingat sebagian besar populasi orangutan berada di luar kawasan konservasi,” ujarnya. “Orangutan bukanlah pendatang di arealini. Mereka sudah berada di sini jauh sebelum konversi lahan terjadi. Kini, orangutan semakin sulit menemukan ruang hidupnya. Kita perlu belajar untuk hidup berdampingan dengan mereka, karena sesungguhnya kitalah yang menempati rumah mereka. Kami juga sangat berharap masyarakat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara dapat merasa bangga dengan keberadaan orangutan di tanah Kayong ini,” tutupnya.

Tentang YIARI:

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerjasama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62821-5346-2720 (Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI)

REPORTED BY : EGA SAFITRI 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.