Sambas-CektaIndonesia.com
Kekhawatiran masyarakat Kabupaten Sambas terhadap kondisi lingkungan kian menguat seiring dengan semakin berkurangnya kawasan hutan di sejumlah wilayah. Aktivitas pembukaan lahan yang terus berlangsung dinilai berpotensi melemahkan daya dukung lingkungan dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi apabila tidak diiringi pengawasan yang ketat.(06/12/2025)
Secara ekologis, hutan berfungsi sebagai pengatur tata air, penahan erosi, sekaligus benteng alami mencegah banjir dan tanah longsor. Berkurangnya tutupan hutan menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyerap air hujan secara optimal, sehingga limpasan air permukaan meningkat dan berpotensi memicu bencana saat curah hujan tinggi.
Kondisi ini mengingatkan publik pada rangkaian bencana tanah longsor dan banjir bandang yang baru-baru ini melanda tiga provinsi di wilayah Sumatra. Tragedi tersebut menelan ratusan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan parah pada permukiman warga serta infrastruktur. Sejumlah analisis lingkungan menyebutkan, degradasi kawasan hulu dan alih fungsi lahan menjadi faktor yang turut memperparah dampak bencana.
Warga Sambas menilai, tragedi di Sumatra seharusnya menjadi peringatan keras bagi daerah lain, termasuk Kalimantan Barat. “Kami tidak anti pembangunan, tapi jangan sampai hutan habis dan masyarakat yang menanggung akibatnya. Keselamatan warga harus jadi pertimbangan utama,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Pemerintah daerah melalui imbauan normatif meminta seluruh pihak agar mematuhi ketentuan perizinan dan menjaga kelestarian lingkungan. Setiap aktivitas pembukaan lahan diharapkan mengikuti aturan yang berlaku serta memperhatikan analisis dampak lingkungan guna mencegah persoalan di kemudian hari.
Pengamat lingkungan menilai, selain legalitas perizinan, aspek pengawasan dan transparansi menjadi kunci. Aktivitas yang secara administratif memiliki izin tetap perlu diawasi secara ketat agar tidak melampaui batas daya dukung lingkungan dan memicu kerusakan ekosistem.
Dampak penyusutan hutan tidak hanya berkaitan dengan potensi bencana, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup dan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat, termasuk ketersediaan air bersih dan stabilitas lahan pertanian.
Masyarakat Sambas berharap pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret melalui evaluasi menyeluruh, pengawasan berkelanjutan, serta penegakan aturan yang adil. Tragedi di Sumatra menjadi pelajaran bahwa ketika keseimbangan alam diabaikan, bencana bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan manusia.
Red.









