Menanti Marwah di Tepi Sungai Sambas: Revitalisasi Waterfront Istana Alwatzikoebillah Sambas Harus Jadi Prioritas

oleh -3683 Dilihat
oleh
banner 468x60

Sambas–CektaIndonesia.com

Kemegahan sejarah semestinya tidak berhenti sebagai dongeng masa lalu. Pembangunan kembali (rekonstruksi atau revitalisasi) kawasan waterfront di Istana Alwatzikoebillah Sambas kini bukan lagi sekadar wacana budaya, melainkan menyangkut harga diri dan identitas daerah yang tak bisa terus ditunda.(25/02/2026)

banner 336x280

Simbol Peradaban yang Perlu Dihidupkan Kembali

Istana bukan sekadar bangunan tua dari kayu dan batu. Ia merupakan episentrum peradaban Kesultanan Sambas yang pernah berjaya di pesisir Kalimantan Barat. Menunda penyelesaian pembangunan waterfront sama saja dengan membiarkan simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat perlahan terkikis oleh waktu.

Masyarakat pun mulai mempertanyakan kejelasan progres pembangunan yang hingga kini dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Bukan Hanya Estetika, tetapi Penggerak Ekonomi Revitalisasi waterfront istana memiliki dampak strategis yang luas, di antaranya:

Magnet pariwisata: Kawasan istana yang tertata dan representatif berpotensi menarik wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara.

Pusat edukasi sejarah: Generasi muda membutuhkan ruang nyata untuk mengenal dan memahami kejayaan leluhur mereka.
Penguatan marwah budaya: Pembangunan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap institusi adat dan warisan sejarah yang telah menjaga harmoni sosial selama berabad-abad.

Dampak ekonomi lokal: Ramainya kunjungan wisata tentu berdampak langsung pada pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.

Suara Warga: Jangan Hanya Jadi Janji Politik
Gustian, warga lokal yang akrab disapa Pak Tek (Dalam Kaum), menyampaikan harapannya kepada wartawan. Ia mengungkapkan bahwa sejak proyek waterfront mangkrak, suasana kawasan istana terasa berbeda.

“Selama pembangunan waterfront ini mangkrak, kami melihat Istana Alwatzikoebillah Sambas kurang adem. Dulu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah, bahkan mancanegara,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah provinsi dan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kondisi tersebut, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri yang tidak lama lagi.

“Kami berharap pihak provinsi beserta daerah segera mengatasi kondisi terpuruk ini. Apalagi menjelang Idulfitri, biasanya banyak pengunjung datang,” ungkapnya.

Senada dengan itu, seorang pengunjung istana yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa masyarakat tidak ingin pembangunan waterfront hanya menjadi komoditas janji politik.

“Saya bukan orang politik, cuma masyarakat kecil. Jangan pembangunan Waterfront City cuma dijadikan janji politik. Apalagi sebelum terpilih, pak gubernur pernah berjanji akan membangun Waterfront City. Ini sudah hampir dua tahun tidak ada bayangan sama sekali, gelap gulita,” ujarnya.

Perlu Kemauan Politik yang Tegas

Masyarakat menilai bahwa alasan anggaran dan regulasi tidak boleh terus menjadi dalih. Diperlukan kemauan politik yang kuat dari pemerintah pusat maupun daerah agar pembangunan waterfront segera dilanjutkan dan diselesaikan secara bertahap dan terukur.

Revitalisasi waterfront bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga marwah sejarah, memperkuat identitas budaya, dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat Sambas.

Redaksi CektaIndonesia.com

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.