Sambas–CektaIndonesia.com
Ketua DPC GMNI Sambas, Rajili, menyoroti pemandangan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Sambas dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran yang cukup memprihatinkan di tengah situasi menjelang hari raya,Minggu 15 Maret 2025
Rajili mengatakan, masyarakat saat ini disuguhkan pemandangan antrean kendaraan yang mengular di setiap SPBU. Ironisnya, antrean itu bukan untuk mendapatkan bantuan atau pembagian sembako gratis, melainkan untuk memperoleh BBM yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
“Hari ini kita menyaksikan pemandangan yang memilukan di negeri yang katanya aman. Antrean kendaraan mengular di setiap SPBU, bukan untuk pembagian sembako gratis, melainkan untuk mengemis hak dasar atas energi,” ujarnya.
Menurut Rajili, kelangkaan BBM yang terjadi di Sambas tidak semata-mata disebabkan oleh persoalan teknis distribusi, tetapi juga dipicu oleh kepanikan masyarakat.
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat yang tidak mendapatkan BBM di kios-kios pengecer akhirnya berbondong-bondong mengantre di SPBU. Kondisi ini diperparah dengan adanya kenaikan indeks harga BBM di sejumlah kios.
“Bagi kami, masalah kelangkaan ini juga terjadi karena adanya kepanikan masyarakat yang tidak mendapatkan BBM di kios-kios, sehingga ikut mengantre di SPBU. Selain itu, indeks harga BBM di kios juga mengalami kenaikan,” jelasnya.
Rajili menilai fenomena panic buying yang terjadi saat ini merupakan reaksi emosional masyarakat menjelang hari raya. Menurutnya, yang terjadi bukan semata kekurangan stok BBM, melainkan berkurangnya rasa aman di tengah masyarakat.
“Panic buying di Sambas saat ini adalah reaksi emosional menghadapi hari raya. Masyarakat sebenarnya tidak sedang kekurangan BBM, tetapi sedang kekurangan rasa aman. Selama mentalitas ‘yang penting saya dapat dulu’ masih dominan, antrean akan tetap panjang meskipun stok BBM di Pertamina melimpah,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, GMNI Sambas menawarkan beberapa solusi konkret agar distribusi BBM dapat berjalan lebih baik dan masyarakat di desa tetap mendapatkan pasokan.
Pertama, memberikan kesempatan waktu satu hingga dua hari bagi para cangkau atau pengecer untuk mengantre di SPBU guna mendistribusikan BBM ke kampung-kampung.
Kedua, menyediakan jalur khusus bagi para cangkau di SPBU sehingga distribusi BBM ke desa-desa dapat berjalan lancar dan masyarakat tidak perlu jauh-jauh datang ke SPBU.
Namun demikian, Rajili menegaskan bahwa langkah tersebut harus disertai dengan pengawasan ketat dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.
“Dengan syarat pemerintah daerah dan pihak kepolisian memastikan distribusi berjalan aman, tidak ada penimbunan BBM, serta harga tetap sesuai ketentuan tanpa ada kenaikan di tingkat pengecer,” pungkasnya.
Reporter: Reno,S.H.







