7850 Hari Perjuangan dan Air Mata, Dari Pulau Beranyut Menuju Jembatan Harapan

oleh -186 Dilihat
oleh
banner 468x60

Sambas-CektaIndonesia.com

Dahulu, Jawai dan sekitarnya dikenal dengan sebutan “Pulau Beranyut”. Sebuah tanah yang indah, namun terpisah oleh sungai dan lautan. Setiap hari masyarakat harus berdamai dengan keterbatasan, menunggu penyeberangan, menantang arus dan waktu demi melanjutkan kehidupan.

banner 336x280

Dari penderitaan dan keterisolasian itulah lahir sebuah mimpi besar: Jembatan Sungai Sambas Besar (JSSB). Sebuah mimpi yang bagi sebagian orang pada masa itu dianggap mustahil, terlalu besar untuk diwujudkan, dan tidak masuk akal untuk dibangun.

Di saat banyak orang meragukan, di saat suara perjuangan seolah tenggelam dalam keheningan, ada seorang lelaki sederhana dari Jawai Selatan yang memilih untuk tidak menyerah.

Ia bukan orang berpangkat.Ia bukan pejabat yang memiliki kekuasaan. Ia bukan orang kaya yang memiliki segalanya.

Ia hanyalah seorang rakyat biasa dengan satu kekayaan yang tidak dapat diukur oleh harta: cinta yang mendalam kepada tanah kelahirannya dan kepada masyarakat Sambas.

Selama 7850 hari, ia berjalan dalam sunyi. Mengetuk pintu demi pintu, menyampaikan harapan masyarakat, memperjuangkan mimpi agar Jawai tidak lagi dikenal sebagai “Pulau Beranyut”.

Namun perjuangan itu menuntut harga yang sangat mahal.

Harta yang ia miliki habis terkuras. Rumah yang menjadi tempat berlindung keluarganya harus tergadai. Waktu, tenaga, pikiran, dan seluruh hidupnya ia persembahkan demi sebuah harapan yang mungkin tidak akan ia nikmati sendiri.

Di saat ia berjuang untuk ribuan orang, kehidupannya sendiri perlahan hancur. Rumah tangganya retak, ia disingkirkan dari keluarganya, dan harus menelan kepedihan yang tidak pernah diketahui oleh banyak orang.

Tetapi ia tetap melangkah.

Karena baginya, suatu hari nanti anak-anak Jawai akan menyeberang tanpa rasa takut, para orang tua akan lebih mudah mencari nafkah, dan masyarakat Sambas akan memiliki jalan baru menuju masa depan.

Hari itu akhirnya datang.

Jembatan Sungai Sambas Besar berdiri megah membelah Sungai Sambas. Kendaraan berlalu-lalang, roda perekonomian bergerak, dan masyarakat menikmati kemudahan yang dahulu hanya sebuah angan.

Namun ironisnya, ketika jembatan itu berdiri kokoh, nama orang yang telah mengorbankan hidupnya perlahan tenggelam dalam ingatan.

Tidak ada penghargaan yang ia minta. Tidak ada kemewahan yang ia tuntut.

Tetapi hati seorang manusia tetap bisa terluka ketika perjuangan selama puluhan tahun seolah tidak pernah ada. Ketika mereka yang dahulu diam, kini ikut menikmati hasil dari sebuah perjuangan yang dibayar dengan air mata.

Hari ini, mungkin banyak orang hanya melihat beton, baja, dan keindahan Jembatan Sungai Sambas Besar.

Namun sedikit yang tahu, bahwa di balik setiap tiang yang berdiri, tersimpan cerita tentang seorang lelaki sederhana yang kehilangan harta, kehilangan rumah, kehilangan keluarganya, demi menghadirkan harapan bagi masyarakatnya.

Jembatan itu bukan hanya dibangun dengan semen dan besi. Jembatan itu juga dibangun dari doa, luka, pengorbanan, dan air mata seorang pejuang yang terlupakan.

Dan jika suatu hari sejarah bertanya siapa yang pertama kali bermimpi mengakhiri kisah “Pulau Beranyut”, maka biarlah nurani masyarakat Sambas yang menjawab:

Ada seorang lelaki sederhana dari Jawai Selatan yang memberikan seluruh hidupnya, agar generasi setelahnya bisa melintas dengan mudah.

Penulis: Wardi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.