Ngopi Malam di Rumah Ketua DAD Sajingan Besar: Dari Perbatasan Menyusun Gagasan Besar untuk Masa Depan Sambas dan Indonesia

oleh -73 Dilihat
oleh
banner 468x60

Sambas-CektaIndonesia.com

Suasana hangat menyelimuti rumah Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Sajingan Besar, Jumat malam 17 Juli 2026. Tepat pukul 19.35 WIB, secangkir kopi hitam, teh hangat, dan camilan sederhana menjadi teman diskusi empat tokoh yang datang dari latar belakang berbeda namun memiliki tujuan yang sama: memikirkan masa depan Kabupaten Sambas dan Indonesia dari kawasan perbatasan.

banner 336x280

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Sambas, Sunardi, Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar, Ketua LAKSRI Kabupaten Sambas, serta Wartawan Sambas, Warditon. Sekitar pukul 19.55 WIB, diskusi turut dihadiri tokoh pemuda Sajingan Besar, Iko.

Tanpa agenda resmi maupun protokoler, diskusi berlangsung santai selama kurang lebih 40 menit, dari pukul 19.35 WIB hingga 20.15 WIB. Meski berlangsung di ruang tamu sederhana, pembahasan yang lahir menyentuh berbagai persoalan strategis, mulai dari regulasi, tata kelola sumber daya alam, pembangunan kawasan perbatasan, pendidikan, hingga peran pers dalam demokrasi.

Sunardi mengawali diskusi dengan menyoroti kompleksitas regulasi di Indonesia. Menurutnya, bangsa ini tidak kekurangan aturan, tetapi membutuhkan penyederhanaan agar masyarakat dan aparat lebih mudah memahami serta menerapkannya.

“Pemerintahan yang baik bukan diukur dari banyaknya aturan, tetapi dari seberapa besar aturan itu mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa seluruh kebijakan seharusnya mengacu pada amanat Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar sependapat. Menurutnya, Sambas memiliki kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis sebagai daerah perbatasan. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada tata kelola yang baik.

Ia mengutip Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat,” katanya.

Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Sunardi menegaskan bahwa investasi terbesar bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia.

Sementara itu, Ketua LAKSRI Kabupaten Sambas mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi perubahan besar, mulai dari geopolitik, perang dagang, krisis energi, perubahan iklim hingga perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, Sambas harus mampu memanfaatkan posisinya sebagai daerah perbatasan untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, bukan sekadar jalur keluar masuk orang dan barang.

Dalam kesempatan yang sama, Wartawan Sambas, Warditon, menekankan pentingnya peran pers sebagai media informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan perekat demokrasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Pers bukan musuh pemerintah, juga bukan alat oposisi. Pers adalah penjaga keseimbangan dengan menyampaikan informasi yang benar, berimbang, dan mencerdaskan masyarakat,” ujarnya.

Tokoh pemuda Sajingan Besar, Iko, yang bergabung di tengah diskusi, menyampaikan aspirasi masyarakat mengenai pentingnya kepastian hukum dalam pengelolaan lahan, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Hutan Produksi (HP) maupun Taman Wisata Alam (TWA).

Menurutnya, kepastian status kawasan menjadi syarat penting agar masyarakat dapat bertani, berkebun, dan mengembangkan usaha secara aman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Menjelang berakhirnya diskusi, Sunardi mengajak seluruh peserta melihat pembangunan dari perspektif jangka panjang dengan menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan daerah.

Ia berharap generasi muda Sambas mampu menempuh pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor, sehingga mampu menjadi ilmuwan, peneliti, diplomat, hakim, maupun pemimpin masa depan.

“Apa pun alasannya, jangan putus sekolah. Pendidikan adalah investasi yang akan mengubah kehidupan keluarga, daerah, bahkan bangsa,” pesannya.

Diskusi ditutup Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar dengan menegaskan bahwa peradaban besar selalu dibangun oleh manusia yang berilmu, berkarakter, dan mencintai daerahnya.

Tepat pukul 20.15 WIB, cangkir-cangkir kopi telah kosong. Namun, gagasan yang lahir dari ruang tamu sederhana itu justru semakin penuh makna.

Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa ide-ide besar tidak selalu lahir dari ruang-ruang kekuasaan, melainkan dapat tumbuh dari semangat persaudaraan, musyawarah, dan kepedulian terhadap masa depan daerah perbatasan.

Malam itu, seluruh peserta membawa keyakinan yang sama bahwa Sambas yang maju hanya dapat diwujudkan melalui kepastian hukum, tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan, pendidikan yang berkualitas, pers yang independen, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam bingkai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Red

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.