Sambas-Cektaindonesia.com.
Proyek Waterfront Sambas yang digadang-gadang sebagai ikon wisata kini berubah menjadi simbol kegagalan pembangunan. Mangkrak dan rusak, proyek ini meninggalkan dampak serius terhadap kawasan bersejarah istana Kesultanan Sambas serta kehidupan ekonomi warga sekitar.
Pantauan di lapangan menunjukkan bangunan lapuk, lingkungan terdegradasi, dan akses jalan rusak parah. Kerusakan jalan tersebut mengganggu aktivitas masyarakat dan melumpuhkan wisata kuliner yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi lokal. Kondisi ini diduga kuat merupakan dampak langsung dari proyek waterfront yang gagal dan minim perencanaan,Senin (12/01/2026)
Uray Guntur Saputra, SE, menilai pemerintah provinsi Kalimantan Barat tidak boleh lepas tangan. “Ini bukan sekadar proyek mangkrak. Jalan rusak, usaha kuliner terdampak, dan lingkungan sekitar Istana Kesultanan Sambas ikut terancam. Dampaknya nyata dan dirasakan langsung masyarakat,” tegasnya.
Guntur menyoroti lemahnya kajian lingkungan dan cagar budaya sejak awal, mengingat lokasi proyek bersinggungan langsung dengan kawasan bersejarah. Menurutnya, tanggung jawab tidak bisa dibebankan kepada pemerintah kabupaten karena perencanaan dan pelaksanaan awal berada di tangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
“Jangan jadikan Istana Kesultanan Sambas sebagai lokasi uji coba proyek. Rusak lalu ditinggal. Provinsi harus bertanggung jawab melakukan audit dan pemulihan,” ujarnya.
Hingga kini, belum ada kejelasan kelanjutan proyek tersebut. Jika terus dibiarkan, Waterfront Sambas bukan akan dikenang sebagai ikon wisata, melainkan monumen kegagalan yang mengorbankan sejarah, lingkungan, dan ekonomi rakyat.
Reporter: Rizalfarizal







